PKBT ada atau dibangun pada masa jabatan Prof. Aman sebagai rektor IPB. Oleh karena itu, sebelum banyak berbicara tentang PKBT, Prof. Aman ingin informasi sebanyak-banyaknya tentang PKBT. Paparan PKBT disampaikan oleh Kepala Pusat, Dr. Sobir. Dr. Sobir ini adalah Kapus ke-3 setelah sebelumnya dijabat oleh Prof. Syafrida Manuwoto, kemudian dilanjutkan oleh Prof. Roedhy Poerwanto (lihat dan klik foto-foto di bwah).

Paparan Dr. Sobir dilanjutkan dengan penyampaian masalah oleh Prof. Syafrida, yang mengetengahkan masalah pokok pengusahaan buah-buahan Indonesia, yaitu masalah pasca panen dan tingginya biaya pemeliharaan kebun “akademik”, khususnya untuk memelihara kebun plasmanutfah. Singkatnya PKBT, sebetulnya memerlukan banyak dana untuk memelihara dan mengembangkan buah-buahan Nusantara.
Prof. Aman, setelah menyimak paparan tentang kegiatan dan hasil PKBT, menyambutnya dengan pernyataan: “PKBT ternyata TIDAK TIDUR”, terus beraktivitas. Hanya sayang, menurut beliau akhir-akhir ini banyak kolega (baik dalam IPB maupun luar IPB) kok menjadi distortif terhadap IPB. Jarang hal-hal positip disampaikan dan diwacanakan. Jelas sekali dengan peristiwa Munas 2 hari yang lalu.
Prof. Aman juga menyampaikan informasi bahwa sudah bertemu dengan rektor untuk membicarakan:
- membangun networking seluas-luasnya, jangan alergi dengan milist dan blog
- pimpinan IPB seharusnya dapat men-tap informasi dan teknologi sebanyak-banyaknya dengan fasilitas TI yang sekarang berkembang
- biarkan generasi muda IPB untuk belajar, untuk berbuat salah, untuk menyerap pengalaman
- perlu informasi faktual tentang sisi-sisi positif IPB untuk segera “digelontorkan” kepada masyarakat luas, dengan berbagai cara dan strategi promosi
Satu pertanyaan menarik dari Prof. Aman tentang alumni, “Sudahkah kita semua, termasuk alumni merasa memiliki IPB, sehingga dapat semakin memperbaiki sistem rekrutmen mahasiswa?”
Prof. Aman menceritakan pengalam-pengalaman di Chung Hsing University di Taiwan tentang pengolahan sari buah, yang 90% bahannya adalah ‘frozen puree’ impor dari berbagai negara tropika. Kenapa bisa? Kemudian Guang Zhou University dengan ‘juice mulberry’ terkait dengan industri sutra, Tang Frere, Toko China di Paris, yang dapat menyediakan berbagai buah tropika untuk warga ‘Asian’ Paris dan warga lokal, tentang Minnesotta University yang merakit apel gabungan berbagai karakter sehingga manis, renyah dan sekaligus ‘juicy‘, yang pada produk komersialnya tercantum ‘hasil penelitian Universitas Minnesotta’, yang artinya universitas itu berhasil menjadi ‘kebanggaan’ warga.
Secara ‘individual’ IPB tidak sadar akan kekuatannya sendiri [Kata Prof. Aman: lebih sering meratap]. Pada akhirnya, budaya riset, budaya menyusun statement of purpose dan kemampuan bersinergi dalam kegiatan riset antar unit tidak mampu diwujudkan oleh IPB. Egosentrisme Akademik sangat menonjol.
Oleh karena itu, Prof. Aman menjanjikan dan disetujui serta akan difasilitasi oleh PKBT untuk mengadakan pertemuan (dan diskusi) yang lebih luas pada hari Kamis atau Jumat (18 atau 19 Desember 2008) yang akan datang di Kebun Percobaan IPB Tajur. Silakan bagi yang ingin ikut serta, khususnya warga linkers dan kolega Prof Aman untuk ikut bergabung.






